Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Selamat Datang di Blog KUA Kec Sembalun, Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600.000,-, disetorkan langsung ke Bank Menggunakan Kode Billing PNBP NR, Zona Integritas KUA, tolak Gratifikasi, Korupsi dan Pungli, Laporkan jika terbukti !

Hati-Hati Memilih Menantu....(Nasihat Untuk Para Orang Tua)

Kisah keteladanan Mubarok dalam menjaga amanah dan memilih pasangan hidup

Kisah Mubarok: Kejujuran, Ketakwaan, dan Memilih Pasangan Hidup

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari harta, keturunan, atau kedudukan. Kejujuran, amanah, dan ketakwaan justru menjadi nilai penting dalam menilai karakter seseorang, termasuk ketika memilih pasangan hidup.

Dikisahkan, di kota Marwu, salah satu kota di Persia, hiduplah seorang laki-laki bernama Nuh bin Maryam. Ia dikenal sebagai pemimpin sekaligus qadhi di kota tersebut. Allah menganugerahkan kepadanya banyak kenikmatan dan harta yang melimpah.

Nuh bin Maryam memiliki seorang putri yang cantik dan berbudi baik. Banyak pembesar, orang terpandang, serta pemuda kaya datang untuk melamarnya. Namun, belum ada satu pun yang membuatnya mantap untuk memilih calon menantu. Ia khawatir pilihannya akan mengecewakan pihak lain, sementara ia ingin memberikan pendamping terbaik bagi putrinya.

Nuh bin Maryam mempunyai seorang budak bernama Mubarok, berasal dari India dan dikenal sebagai pribadi yang taat serta menjaga amanah. Suatu hari, Nuh mempercayakan kebunnya yang luas kepada Mubarok untuk dirawat dan dijaga.

Ujian Amanah di Kebun Anggur

Setelah beberapa waktu Mubarok menjaga kebun itu, Nuh bin Maryam datang berkunjung. Ia meminta Mubarok memetikkan segenggam anggur. Mubarok pun mengambilkan anggur, tetapi rasanya masam. Nuh lalu meminta anggur yang lain. Ternyata, anggur kedua yang dipetik pun masih masam.

Heran dengan kejadian itu, Nuh bertanya mengapa Mubarok tidak dapat membedakan anggur yang manis dan yang masam, padahal ia telah menjaga kebun selama beberapa waktu.

“Wahai tuanku, engkau memerintahkanku untuk menjaga kebun ini, bukan untuk mencicipi buahnya. Bagaimana mungkin aku memakannya tanpa izin darimu?”

Jawaban Mubarok membuat Nuh bin Maryam takjub. Mubarok tidak mau mengambil manfaat dari sesuatu yang dipercayakan kepadanya tanpa izin pemiliknya. Baginya, menjaga amanah bukan hanya menjalankan perintah secara lahiriah, melainkan juga menghindari hal-hal yang tidak diizinkan.

Nuh semakin menghargai kejujuran dan ketakwaan Mubarok. Ia melihat bahwa pemuda tersebut memiliki karakter yang kuat, mampu menjaga diri, dan tidak mudah tergoda untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Nasihat tentang Memilih Calon Pasangan

Karena telah menaruh kepercayaan kepada Mubarok, Nuh bin Maryam kemudian meminta pendapatnya tentang siapa yang layak menjadi pendamping putrinya. Banyak orang terpandang telah melamar, tetapi ia belum menemukan pilihan yang benar-benar mantap.

Mubarok menyampaikan pandangannya bahwa manusia dapat menilai calon pasangan dari berbagai hal, seperti keturunan, kedudukan, kecantikan, dan harta. Namun, ia mengingatkan bahwa agama dan ketakwaan merupakan pertimbangan yang sangat penting.

Mendengar nasihat tersebut, Nuh bin Maryam berkata bahwa ia lebih memilih calon menantu yang kuat agamanya, bertakwa, jujur, dan amanah. Sifat-sifat itu telah ia lihat sendiri pada diri Mubarok. Karena itulah, ia menyampaikan keinginannya untuk menikahkan Mubarok dengan putrinya.

Mubarok sempat merasa heran. Ia mengingatkan bahwa dirinya hanyalah seorang budak yang berasal dari India dan mempertanyakan mengapa Nuh memilihnya, bukan salah seorang pelamar yang kaya atau terpandang.

Nuh kemudian membawa Mubarok pulang dan membicarakan niat tersebut dengan istrinya. Sang istri meminta waktu untuk menyampaikan rencana itu kepada putri mereka dan mendengar pendapatnya.

Setelah mengetahui pilihan ayahnya, sang putri menyatakan kesediaannya untuk mengikuti keputusan orang tuanya. Dengan persetujuan keluarga, Mubarok pun dinikahkan dengan putri Nuh bin Maryam.

Lahirnya Abdullah bin Mubarok

Setelah pernikahan, Nuh bin Maryam memberikan harta kepada pasangan tersebut. Dari keluarga itu kemudian lahir seorang anak laki-laki bernama Abdullah bin Mubarok, yang dalam kisah ini dikenang sebagai sosok yang kelak masyhur di kalangan umat Islam karena ilmu, kezuhudan, dan periwayatan hadisnya.

Kisah ini mengajak pembaca melihat bahwa nilai seseorang tidak seharusnya ditentukan hanya oleh latar belakang, status sosial, atau kekayaan. Akhlak, kejujuran, dan kesungguhan dalam menjaga amanah adalah sifat yang patut dihargai.

Doa Memohon Pasangan yang Saleh

اللهم إن كنت صالحًا فارزقني زوجة صالحة
وإن لم أكن صالحًا فارزقني زوجة تصلحني

Makna bebas: “Ya Allah, jika aku seorang yang saleh, karuniakanlah kepadaku pasangan yang salehah. Jika aku belum menjadi orang yang saleh, karuniakanlah kepadaku pasangan yang membantuku menjadi lebih baik.”

Sumber kisah: https://www.piss-ktb.com/2014/06/3184-hati-hati-memilih-menantunasehat.html
Tulisan ini telah dirapikan dari naskah yang diberikan. Untuk kutipan kisah dan doa, silakan merujuk sumber asli; redaksi doa di atas ditampilkan sebagaimana dinukil dalam naskah dan maknanya merupakan terjemahan bebas.

Hikmah yang dapat dipetik

  • Menjaga amanah: tidak mengambil atau menggunakan sesuatu tanpa izin pemiliknya.
  • Mengutamakan akhlak: karakter dan ketakwaan layak menjadi pertimbangan penting dalam memilih pasangan.
  • Tidak menilai dari status sosial: kemuliaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh harta, keturunan, atau kedudukan.
  • Melibatkan keluarga dengan bijak: pembicaraan pernikahan sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan matang dan persetujuan pihak yang akan menikah.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk terus memperbaiki diri, menjaga kejujuran, dan membangun keluarga di atas nilai agama serta akhlak yang baik.

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Hati-Hati Memilih Menantu....(Nasihat Untuk Para Orang Tua) "